Padahal seorang senior merupakan sosok pembimbing adik-adiknya yang baru masuk ke dunia perkuliahan. seorang senior sebenarnya tempat bertanya bagi adik-adiknya. dibeberapa Kampus/Fakultas kekerasan dalam senioritas sudah mulai berkurang, karena adanya kesadaran bahwa kekerasan bukanlah jalan satu-satunya untuk mendidik seseorang, apalagi diperadaban yang sudah dewasa ini. sayangnya masih ada beberapa kampus yang menganut paham Senioritas sebagai orang yang kuat, harus dihargai, dan ditakuti. paham inilah yang memicu kekerasan batin maupun fisik. Budaya kekerasan seperti ini sebenarnya memberikan tekanan mental kepada mahasiswa yang baru saja masuk kuliah, sehingga mereka sulit untuk konsentrasi belajar.
Sebenarnya kita adalah Mahasiswa, panggilan mahasiswa terhadap seorang pelajar merupakan sebuah kehormatan dan menunjukkan tingginya derajat seorang pelajar. Mahasiswa dikenal masyarakat seorang yang serba bisa, cepat tanggap, dan cara berfikirnya luas. tetapi ketika kekerasan ini terjadi dan masih membudaya, Maka mahasiswa bukan lagi seorang yang serba bisa, cepat tanggap, dan berfikir luas. melainkan tak bedanya dengan preman pasar.
Prof. Syarif Ibrahim Alqadrie M.sc. berkata "Orang itu sudah banyak yang mengenyam pendidikan, tetapi sedikit yang terdidik". coba kita berfikir lebih luas, jangan hanya didalam ruang lingkup Indonesia saja. di negara lain tidak ada istilah Ospek dan Mos seperti yang kita orang Indonesia lakukan. tetapi kenyataannya dinegara lain seperti di Amerika, Australia, Inggris, Singapura dan lain-lain , mereka berhasil mencetak Mahasiswa unggul dan berdaya saing. berbeda dengan negara kita, lulusan sarjana saja tidak menjamin memiliki skill yang memadai bahkan banyak yang menganggur. marilah kita sebagai mahasiswa yang cerdas untuk tidak melanjutkan budaya tersebut dan mulai berfikir dewasa.
Ada yang mengatakan hal tersebut untuk menambah pengalaman. Pengalaman tidak harus melalui ospek, Mos, dll. pengalaman itu adalah tergantung diri kita untuk mempelajarinya. orang yang hebat bukanlah orang yang banyak pengalaman, tetapi orang yang banyak belajar dari pengalamannya. (A.Wesi Ibrahim)
