Senin, 02 Juni 2014

Mahasiswa yang dewasa, Mahasiswa yang tidak membudayakan kekerasan.

       
 Istilah senioritas didalam dunia kampus terkadang diberi makna yang salah. kesalahan kaprah mengenai kedudukan seorang senior ini memberikan arti lain yakni sebagai title tentang sebuah kekuasaan dan superior. anggapan ini membuat mahasiswa lama merasa lebih berkuasa, berpengalaman dan harus dihargai oleh mahasiswa baru yang masih polos. semua ungkapan ini bukanlah sebuah dongengan dan tahayyul semata, melainkan sebuah realita yang memang terjadi dibeberapa kampus/fakultas. seperti kasus yang terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta(sumber: news.detik.com). Dimas Dikita Handoko yang tewas disiksa oleh seniornya sendiri. padahal masalah dalam kasus hanya masalah sepele, diduga korban kurang respect kepada seniornya. Kasus serupa juga pernah terjadi pada Insitut Teknologi Nasional (ITN) Malang dengan korban yang bernama Fikri (sumber: http://sinarharapan.co). ini membuktikan betapa masih bobroknya pendidikan di Indonesia.
       Padahal seorang senior merupakan sosok pembimbing adik-adiknya yang baru masuk ke dunia perkuliahan. seorang senior sebenarnya tempat bertanya bagi adik-adiknya. dibeberapa Kampus/Fakultas kekerasan dalam senioritas sudah mulai berkurang, karena adanya kesadaran bahwa kekerasan bukanlah jalan satu-satunya untuk mendidik seseorang, apalagi diperadaban yang sudah dewasa ini. sayangnya masih ada  beberapa kampus yang menganut paham Senioritas sebagai orang yang kuat, harus dihargai, dan ditakuti. paham inilah yang memicu kekerasan batin maupun fisik. Budaya kekerasan seperti ini sebenarnya memberikan tekanan mental kepada mahasiswa yang baru saja masuk kuliah, sehingga mereka sulit untuk konsentrasi belajar.
          Sebenarnya kita adalah Mahasiswa, panggilan mahasiswa terhadap seorang pelajar merupakan sebuah kehormatan dan menunjukkan tingginya derajat seorang pelajar. Mahasiswa dikenal masyarakat seorang yang serba bisa, cepat tanggap, dan cara berfikirnya luas. tetapi ketika kekerasan ini terjadi dan masih membudaya, Maka mahasiswa bukan lagi seorang yang serba bisa, cepat tanggap, dan berfikir luas. melainkan  tak bedanya dengan preman pasar.
           Prof. Syarif Ibrahim Alqadrie M.sc. berkata "Orang itu sudah banyak yang mengenyam pendidikan, tetapi sedikit yang terdidik". coba kita berfikir lebih luas, jangan hanya didalam ruang lingkup Indonesia saja. di negara lain tidak ada istilah Ospek dan Mos seperti yang kita orang Indonesia lakukan. tetapi kenyataannya dinegara lain seperti di Amerika, Australia, Inggris, Singapura dan lain-lain , mereka berhasil mencetak Mahasiswa unggul dan berdaya saing. berbeda dengan negara kita, lulusan sarjana saja tidak menjamin memiliki skill yang memadai bahkan banyak yang menganggur. marilah kita  sebagai mahasiswa yang cerdas untuk tidak melanjutkan budaya tersebut dan mulai berfikir dewasa. 
        Ada yang mengatakan hal tersebut untuk menambah pengalaman. Pengalaman tidak harus melalui ospek, Mos, dll. pengalaman itu adalah tergantung diri kita untuk mempelajarinya. orang yang hebat bukanlah orang yang banyak pengalaman, tetapi orang yang banyak belajar dari pengalamannya. (A.Wesi Ibrahim)

Rabu, 21 Mei 2014

Mengadakan latihan penulisan- Rayon Fisip Untan berharap kader Pmii Untan bisa menulis.



Menulis adalah hal yang dirasa sulit oleh sebagian orang. ada beberapa orang yang bisa berbicara dengan lancarnya dan memiliki kemampuan yang baik dalam berdebat tetapi kesulitan untuk menuangkan hasil pemikirannya itu kedalam kertas. oleh karena itu orang memerlukan pelatihan khusus agar bisa menulis. walaupun memerlukan waktu yang tidak sebentar dalam proses pembelajarannya.

dengan kemampuan menulis orang bisa mengutarakan isi pemikirannya, dalam bidang berita, opini, sastra, karya tulis dan lain-lain. dengan menulis seseorang bisa berpendapat, mengkritisi dan menyanggah pendapat orang lain tanpa harus bersusah payah berbicara didepan umum. karena hasil sebuah tulisan yang baik tentu akan dilihat oleh banyak orang. terlebih dengan era internet sekarang, orang dapat dengan mudah mempublikasikan tulisannya di media sosial. 

seorang mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang memiliki banyak keterampilan kemampuan, dan yang tak kalah penting adalah keterampilan dalam menulis. hal ini telah disadari oleh pengurus Rayon Fisip Untan. 
mereka mengadakan Pelatihan rutin setiap minggu di ruangan E Fisip Untan. pelatihan ini dilaksanakan untuk seluruh kader PMII Untan, tidak hanya dikhususkan untuk kader Fisip Untan.

Ketua Umum Rayon Fisip Untan yang biasa dipanggil Habib(Syarif S) berharap agar kader-kader Fisip memiliki kemampuan didalam bidang menulis. kegiatan ini dipantau langsung oleh ketua rayon sendiri didampingi oleh serkertarisnya Musholli.

Diadakan pelatihan ini mengingat hanya sedikit kader Pmii Untan yang memiliki kemampuan tersebut.
dengan pelatihan ini semoga kader-kader unggul Pmii bisa menjadi seorang mahasiswa yang lebih berkualitas, memiliki  banyak keterampilan, dan bisa membantu kader-kader untuk berkarya dan memudahkan mereksa dibidang akademik.(A.wsi)



Senin, 12 Mei 2014

KILAS BALIK SEJARAH PMII - Sumber: www.pmiisastra.8m.com


(Al-Muhafadhatu ‘ala Qadim al-Shalih wa al-Ijad bi al-Jadid al-Ashlah)
PMII adalah bagian dari sejarah Indonesia. Mulai dari awal proses kemunculannya, proses lahirnya sampai proses perjalanannya hingga sekarang, PMII telah menjadi saksi dari sejarah perjalanan Indonesia. 
Selain itu, PMII juga sejarah bagi dirinya sendiri. PMII pernah jaya dan pernah terpuruk. PMII pernah bersitegang akibat perdebatan tentang politik praksis dan PMII pernah ditendang dari wilayah strategis. Semua itu bagian dari sejarah yang tak terpisahkan dari perjalanan PMII.
Dalam proses pemunculannya, PMII tidak bisa dipisahkan dari kondisi sosial politik tahun 1950-an. Ketika itu, telah muncul organisasi-organisasi kepemudaan seperti HMI (ketika itu underbow Masyumi) SEMMI (dengan PSII) KMI (dengan PERTI) IMM (dengan Muhammadiyah) dan HIMMA (dengan Wasillah). 
Banyaknya organisasi tersebut, membuat anak-anak NU ingin mendirikan wadah yang bernaung di bawah panji bola dunia. Akhirnya, pada tahun 1955 di dirikanlah IMANU (Ikatan Mahasiswa NU) oleh tokoh-tokoh PP-IPNU. Namun, IMANU tidak berumur panjang. Sebab, PBNU tidak merestui dengan alasan yang sangat logis: “IPNU didirikan baru tanggal 24 Februari 1954 dan dengan pertimbangan waktu, pembagian tugas dan efektifitas organisasi”.
Tetapi sampai pada Kongres IPNU ke 2 (Awal 1957 di pekalongan)dan ke 3 (akhir 1958 di Cirebon) NU masih memandang belum perlu adanya organisasi kemahasiswaan. Baru kemudian pada tahun 1959 IPNU membuat departemen yang kemudian dikenal dengan Departemen Perguruan Tinggi IPNU. Satu tahun kemudian setelah Departemen Perguruan Tinggi IPNU ini dianggap tidak efektif dan tidak cukup menampung aspirasi mahasiswa NU, maka pada Konprensi Besar IPNU (14-16 Maret 1960) di Kaliurang sepakat mendirikan organisasi tersendiri.
Rekomendasi ini dimanfaatkan dengan baik oleh 13 tokoh, yakni; Chalid Mawardi (Jakarta), Said Budairy (Jakarta), M. Shabih ubaid (Jakarta), Makmun Syukri BA. (Bandung), Hilman (Bandung), H. Ismail Makky (Yogyakarta), Munsif Nachrawi (Yogyakarta), Nurilhuda Suady HA. (Surakarta), Laily Mansyur (Surakarta), Abdul Wahab Djailani (semarang), Hisbullah Huda (Surabaya), M. Chalid Marbuko (Malang), dan Ahmad Husein (Makasar). Pada tanggal 14-16 April 1960, mereka menggodok organ baru di TPP Khadijah Surabaya. Akhirnya, tanggal 17 April 1960 lahirlah organisasi mahasiswa NU yang diberi nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Tidak berselang lama, tahun 1961 PMII melaksanakan Kongres I di Tawangmangu, Solo yang menghasilkan deklarasi Tawangmangu. Dari sini dimulailah kiprah PMII dalam percaturan nasional. Tahun 1963 kongres ke-2 PMII digelar di Yogyakarta. Kongres ini menegaskan kembali esensi Deklarasi Tawangmangu yang dikenal dengan Penegasan Yogyakarta. Tahun 1965 PMII mengadakan TC II di Megamendung, Bogor untuk menyikapi problem kehidupan masyarakat dan negara.
Pada masa ini, terjadi gejolak yang mempengaruhi situasi nasional. Mahasiswa menyikapinya dengan berbagai aksi dengan berbagai organ taktis seperti KAMI dan KAPPI. Dalam proses ini, PMII mengambil tempat terdepan. Bahkan, Ketua Umum PB PMII, Zamroni menjadi ketua KAMI/KAPPI dari awal sampai akhir berdirinya.
Dalam perjalanan selanjutnya, PMII merasa tidak strategis dan mengalami keterbatasan langkah di bawah naungan NU –ketika itu berfusi ke PPP. Maka pada tahun 1972, PMII mendeklarasikan Independensi dari NU dalam ajang Munas di Murnajati. Deklarasi ini terkenal dengan Deklarasi Murnajati. Adapun tim perumus Deklarasi Murnajati adalah; Umar Basalin (Bandung), Madjidi Syah (Bandung), Slamet Efendi Yusuf (Yogyakarta), Man Muhammad Iskandar (Bandung), Choirunnisa’ Yafizhan (medan), Tatik Farikhah (Surabaya), Rahman indrus dan Muiz Kabri (Malang).
Kiprah PMII pasca independen tidak banyak terekam, karena minimnya dokumen, termasuk posisi PMII ketika kasus Malari. Tetapi yang jelas, ketika rezim orde baru berkuasa, PMII dipinggirkan dan dibatasi perannya. Kemudian, PMII berusaha mengambil langkah-langkah strategis untuk menunjukkan eksistensi dan kiprahnya. Baru tahun 1989 PMII melakukan Penegasan Cibogo (Kongres Medan) dan merevisi pola hubungan NU-PMII dengan pola interdependensi. Deklarasi Interdependensi terjadi ketika Kongres X PMII di Pondok Gede, Jakarta, tahun 1991. Setelah itu, PMII terlibat dengan berbagai gerakan, termasuk gerakan Reformasi tahun 1998 dengan terang-terangan atau masuk ke dalam organ-organ gerakan taktis.
Kumpulan serpihan sejarah PMII menjadi penting sebagai cermin bagi kita untuk mengayunkan langkah ke arah yang lebih baik. Sehingga, kader PMII tidak mengalami disorientasi dan kegagapan dalam menghadapi perubahan. Apalagi, tradisi dokumentasi dirasakan sangat minim di PMII. Dalam buku-buku sejarah gerakan mahasiswapun, PMII jarang disebut. Disamping itu, para founding fathers PMII, satu per satu meninggal dunia, seperti Mahbub Junaidi, Zamroni dll.
sumber: http://www.pmiisastra.8m.com/

Selamat atas terpilihnya Khairul Mulyadi sebagai Ketua Umum Komisariat Untan.

Tak dapat dipungkiri sosok Khairul Mulyadi banyak berkontribusi terhadap perkembangan PMII selama ini. sehingga dia dipercaya sebagai Ketua Umum PMII Komisariat Untan. Dia unggul 5 point dari Sya'ur Ramadan saat penghitungan suara pada pleno 4 Rapat Tahunan Komisariat yang ke II di Fakultas Pertanian ruangan anggrek. Meski dia baru bergabung hampir dua tahun di komisariat, tetapi dia sudah mampu mendapat kepercayaan kader-kader PMII Untan.

Khairul Mulyadi selalu berperan aktif disetiap kegiatan pengkaderan, diskusi, aksi dan lain-lain. bahkan dia selalu membuat inisiatif sendiri untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi kader contohnya pada latihan penulisan di jalan agus salim. dia rela mengundurkan diri dari jabatannya di PC Pontianak demi Komisariat Untan.

Harapan besar terhadap Khairul Mulyadi untuk memajukan Komisariat Untan, mengingat PMII sudah mulai hidup kembali di Untan dan diyakini bisa berkembang pesat. semoga sosok pemimpin baru ini bisa menjadi penegak panji-panji Ahlussunnah wal jama'ah. dan menjadikan PMII sebagai organisasi terbesar dan berkualitas di Universitas tanjungpura.

HIDUP PMII..!!!